Di Bawah Bayang-Bayang Fatu Nausus
di lereng Fatu Naususperempuan setengah uzur itu duduk
air matanya mengguyur dagu
meratapi isi tanahnya yang sudah habis,
dirampas oleh para korporasi
dipanggilnya tiga batu tungku: suku Mollo, Amanuban, Amanatun
sambil menghadap ke puncak Fatu Nausus,
berkatalah perempuan tua itu:
“Ya BUMI Di-Bawah, LANGIT Di-Atas,
kepada para perampas, tak’an kami doakan kualat,
tapi kalaulah itu kehendakMu, terjadilah!”
lalu digandengnya tangan tiga batu tungku,
mulutnya komat-kamit melafalkan ritual warisan leluhur,
diambilnya sebuah batu mangan,
sambil menengadah ke puncak Fatu Nausus, dia berkata:
“lihatlah! inilah batu hitam mangan; ini kita punya tulang”
kemudian, digenggamnya sebongkah tanah hitam, sambil berkata:
“lihatlah! inilah tanah; inilah daging yang ada di kita punya badan”
dan kepada air yang dipegangnya di dalam sebuah rantang, dia berkata:
“lihatlah! inilah air, ini kita punya darah”
setelah semuanya itu diucapkan,
berkatalah perempuan tua itu sambil mengatupkan kedua tangannya di dada:
“ingatlah! lakukanlah ritual ini sebagai memori sejarah,
agar JANGAN SEKALI-KALI tanah ini dijarah oleh para penambang”
begitulah, memori sejarah tertancap
di batin terdalam dari tiga tonggak batu
disaksikan bayang-bayang Fatu Nausus
agar seluruh suku senantiasa bertekuk lutut, seraya berucap:
“semoga ALLAH kami tidak tidur”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar